Penantian Panjang Seorang Laki-Laki dan Seorang Perempuan

Hari ini saya melakukan blog walking ke blog temen saya yang merupakan penulis cilik (perawakannya emang cilik...tapi udah berkumis kok). Berikut adalah salah satu tulisannya yang menyentuh hati...Let's chekedaut...

Sayup-sayup terdengar ayam jantan melakukan tugas rutinnya. Tak terdengar lagi suara jangkrik atau azan subuh. Dari arah dapur kudengar alunan bunyi parang dan kayu. Aku bangkit dari peraduanku.

“Sudah bangun, Pak.”

“Hm….”

Kulihat istriku sedang serius menekuni pekerjaannya. Pekerjaan rutin setiap pagi. Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga bagi keluarga kami. Bahkan, pekerjaan yang seharusnya kulakukan, mencari sepiring nasi bagi anak-anakku. Kuambil handuk yang sudah berbau apek dan berlubang di mana-mana. Aku melangkahkan kakiku dengan berat ke kamar mandi. Kubiarkan air dingin membasuh tubuhku dan menyadarkanku.

***

Aku merebahkan tubuhku di atas dipan tempat tidurku. Kulihat kedua anakku yang masih berusia sekolah dasar bermain di depan gubuk reyot ini. Badanku yang sudah “karatan” ini sakit semua. Kupaksakan melakukan semua pekerjaan rumah. Bahkan, pekerjaan untuk menghidupi keluarga ini saja, aku yang melakukannya. Tentu saja hanya dengan membuka warung tidak akan mampu membayar uang-uang untuk hidup. Apalagi suamiku, laki-laki pemalas itu, tidak bekerja. Kerjanya hanya pergi entah ke mana dan pulang sore hari atau tengah malam. Baru saja dia berpamitan denganku. Katanya akan mencari kerja. Aku sudah tidak ingat lagi berapa kali dia mengatakan hal yang sama. Tapi hasilnya, dia selalu pulang dengan wajah muram.

Tuhan, mengapa Kau beri aku kehidupan seperti ini? Dari kecil aku sudah mengerjakan semua kewajibanku pada-Mu. Bahkan, tak pernah sekalipun aku menyentuh semua yang Kau larang. Apa itu semua belum cukup? Aku menitikkan air mata lagi. Air mata yang tak pernah kutahu kapan akan kering. Air mata yang kutumpahkan saat aku memikirkan kehidupanku saat ini. Air mata yang senantiasa hadir saat kutunggu laki-laki itu pulang.

Aku ingin mati. Entah mengapa, tiba-tiba hal tersebut terlintas dalam pikiranku. Ya, aku mau mati. Daripada terus menderita seperti ini, lebih baik aku mati saja. Memang, sudah berkali-kali aku memikirkan kematian. Namun, dorongan itu menjadi kuat hari ini. Buat apa hidup seperti ini? Hidup dengan lelaki tak berguna. Tapi, kasihan juga anak-anakku jika aku tak ada. Mereka juga akan menderita. Apa mereka juga harus ikut denganku? Ya. Tidak, tidak. Tapi, ya, mereka juga harus mati. Aku berjalan tertatih dan mengambil sebotol racun tikus dari rak piring. Kutuangkan racun berwarna putih itu ke dalam dua gelas air. Kupanggil kedua anakku yang tengah bermain.......

Pensaran ma kelanjutannya? silahkan aja kunjungi blog-nya si penulis di sini

10 komentar:

thegands said...

langsung ke tkp....

Diah said...

Wah makasih infonya mas...segera menuju TKP

afwan auliyar said...

wah langsung meluncur ke TKP .....

marshmallow said...

*meluncur*

trendy said...

balik dari TKP!
kirain masih kecil beneran..nggak taunya memang udah berkumis dimana-mana!
wkekekekek!

Panda said...

iyah.. emg berkumis dimana2 :D

KeRe' said...

Kumisnya sedikit, tapi kok bulunya banyak. Kelihatannya aku punya dirumah.

Raffaell said...

Apa ini yang disebut melakukan kewajiban tapi tidak tahu arti penting dan nilai dari kewajiban itu ya ?

Taat tapi ingin mati karena cobaan, hmmmm ironis

marshmallow said...

ndut, aku udah baca ceritanya.
singkat tapi bagus banget ya?
thanks udah ngasih tau.

Raito said...

Oy, oy..
Yg di poto itu bukan aku.
Hiks..hiks..
T_T

Tapi, makasih juga yg udah liat.
Tunggu kisah2 berikutnya

NB: Memang aku dulu berkumis, tp skrang dah dicukur kok.

Post a Comment